
“Ketika pria banyak bicara, orang menghargai mereka. Tetapi ketika wanita melakukannya, kebanyakan orang melihat mereka terlalu mendominasi dan lancang,” kata Victoria Brescoll.
Penelitian yang dilakukan Yale University ini mengambil sampel sebanyak 156 orang untuk membaca artikel mengenai kepala eksekutif yang mereka buat sendiri.
Kepala eksekutif digambarkan sebagai pria yang gemar bicara, pria pendiam, wanita yang gemar bicara, dan wanita pendiam. Responden diminta untuk memperkirakan kompetensi mereka dalam skala nilai 1 – 7 poin.
Hasilnya, pria yang gemar bicara mendapatkan nilai rata-rata 5,64 sementara pria yang pendiam mendapat nilai 5,11. Namun, penilaian pada wanita menunjukkan sebaliknya, yaitu rata-rata 4,83 untuk wanita yang gemar bicara dan 5,64 untuk wanita yang pendiam.
Sementara itu, seorang ahli, Jean Hannah Eldestein mengemukakan bahwa penemuan ini menunjukkan masih adanya ‘pandangan bodoh’ mengenai asosiasi negatif yang diterima oleh wanita yang gemar berbicara.
“Masalahnya ada pada asumsi yang seksis, di mana wanita yang banyak bicara terlihat bossy secara negatif,” kata Edelstein, seperti dilansir oleh Times of India.
“Mungkin karena kebanyakan orang berharap wanita hanya akan berbaur di belakang, yang tentu saja akan memberikan jaminan bahwa karier mereka aman.”
“Mungkin juga penemuan ini bukan tentang apakah wanita lebih banyak bicara atau tidak, namun tentang kurangnya penghormatan bagi wanita yang menempati posisi atasan. Saranku bagi para wanita yang dianggap tidak kompeten karena terlalu banyak bicara adalah teruslah berbicara dan ajak teman-teman Anda untuk melakukannya. Dengan begini semuanya akan bisa berubah.”




0 comments
Add your comment